YOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta mendorong pengembangan kawasan penyangga (buffer zone) Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai destinasi baru guna mengurangi tekanan kunjungan wisata di kawasan inti (core zone), khususnya Malioboro.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan, status Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga amanah untuk menjaga keberlanjutan kawasan bersejarah tersebut.
“Yang lebih penting adalah bagaimana kita menjaga nilai budaya yang hidup di dalamnya agar tetap lestari sekaligus mampu menjawab kebutuhan pembangunan kota,” ujar Hasto saat membuka The 3rd International Field School and Seminar on The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks di Graha Pandawa Balai Kota Yogyakarta, Senin (6/7).
Menurut Hasto, salah satu tantangan yang kini dihadapi adalah meningkatnya jumlah wisatawan di kawasan inti Sumbu Filosofi. Kondisi tersebut memerlukan berbagai inovasi agar aktivitas ekonomi dan pariwisata tidak hanya terpusat di Malioboro.
Karena itu, Pemkot Yogyakarta mulai mendorong pengembangan kawasan penyangga sebagai ruang aktivitas baru yang tetap berpijak pada prinsip pelestarian warisan budaya.
Salah satu potensi yang dinilai dapat dikembangkan adalah kawasan sungai di Kota Yogyakarta. Hasto menyebut Sungai Code dan Sungai Gajah Wong berpeluang menjadi destinasi wisata alternatif yang mampu menghadirkan pengalaman berbeda bagi wisatawan.
Bahkan, ia membayangkan suatu saat wisatawan dapat mengakses kawasan Malioboro melalui jalur Sungai Code ketika kondisi lalu lintas di pusat kota mengalami kepadatan.
Untuk mendukung rencana tersebut, Pemkot Yogyakarta telah melakukan normalisasi Sungai Code selama dua pekan terakhir, mulai dari belakang Hotel Tentrem hingga kawasan Jembatan Kewek.
Selain pengembangan destinasi baru, Hasto menegaskan pentingnya menjaga keaslian Kota Yogyakarta dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kawasan Sumbu Filosofi.
Ia juga menilai tantangan pelestarian tidak hanya terkait bangunan dan situs bersejarah, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat agar lebih tertib, disiplin, bersih, dan peduli terhadap lingkungan.
Sementara itu, Ketua Jogja Seminar and Field School, Dwita Hadi Rahmi, mengatakan kawasan penyangga memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan Situs Warisan Dunia Sumbu Filosofi Yogyakarta karena menjadi ruang hidup masyarakat yang terus berkembang.
Kegiatan yang merupakan kolaborasi Pemerintah Kota Yogyakarta, UNESCO Chair in Heritage Cities Conservation and Management Fakultas Teknik UGM, Kyoto University, dan UNESCO Regional Office for Indonesia and ASEAN itu diikuti 20 peserta dari Indonesia dan Jepang. Selama enam hari, peserta akan mempelajari kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta untuk merumuskan strategi pelestarian dan pengelolaan yang berkelanjutan.
