YOGYAKARTA – Merti Golong Gilig kembali menjadi salah satu puncak perayaan kemerdekaan masyarakat Kampung Dipowinatan, Kelurahan Keparakan, Mergangsan. Kegiatan digelar di RTHP Dipowinatan, Selasa (18/8/2026), dalam rangka memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia.
Masyarakat mengikuti rangkaian acara mulai dari kirab budaya, pentas tari dan Upacara Tali Sada. Kemeriahan berlanjut melalui pesta rakyat serta pertunjukan musik yang melibatkan warga setempat.
Perwakilan penyelenggara Mahadeva mengatakan kegiatan tersebut telah menjadi agenda rutin Kampung Dipowinatan setiap 18 Agustus sejak 2015.
Seluruh kegiatan digelar secara swadaya masyarakat dan berlangsung selama sekitar satu bulan. Rangkaian perayaan akan ditutup dengan pentas seni pada 29 Agustus 2026.
Dalam Merti Golong Gilig tahun ini, warga turut menampilkan fragmen Dipawinoto. Pertunjukan tersebut menceritakan asal-usul Dipowinatan yang terbentuk melalui penggabungan Kampung Numbak Anyar dan Kampung Kintelan.
Pesta rakyat menjadi bagian lain yang mendapat perhatian masyarakat. Warga mengeluarkan berbagai makanan yang dimiliki untuk kemudian dibagikan secara gratis.
Mahadeva menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas kehidupan kampung yang rukun dan tenteram, sekaligus sarana memperkenalkan potensi kuliner Dipowinatan.
Plt Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Yogyakarta Agus Arif Nugroho mengapresiasi kuatnya kebersamaan masyarakat Dipowinatan.
Menurutnya, filosofi Golong Gilig menggambarkan kekuatan yang muncul ketika masyarakat bersatu. Ia mengumpamakannya dengan sapu lidi yang baru dapat berfungsi maksimal setelah setiap batang lidi diikat menjadi satu.
Semangat tersebut diharapkan terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dipowinatan sekaligus memperkuat posisinya sebagai kampung wisata dengan potensi seni, budaya dan kuliner.
