KOTA YOGYAKARTA – Pendampingan usaha yang diberikan Kemantren Kotagede membantu Nurhasanah mengembangkan usaha kuliner, mulai dari pengurusan legalitas hingga penyediaan fasilitas transaksi. Dukungan pemasaran turut dihadirkan melalui JOGOMIDAS, inovasi yang menyediakan gerai bersama bagi produk UMKM setempat.
Selama empat tahun mendapatkan pendampingan, Nurhasanah memperoleh fasilitasi pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikat halal, dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Ia juga mendapatkan bantuan pembuatan QRIS dan rekening bank serta mengikuti pelatihan pembuatan buket snack.
“Setelah memiliki NIB dan sertifikat halal, saya lebih percaya diri dalam menjalankan usaha. Dengan adanya QRIS dan rekening bank, transaksi juga menjadi lebih mudah,” kata Nurhasanah.
Ia berharap pendampingan serta fasilitas pemasaran dapat membantu produknya dikenal lebih luas. Selain itu, ia mengharapkan semakin banyak kegiatan di kemantren yang melibatkan UMKM agar kesempatan berjualan ikut bertambah.
Upaya memperluas akses pemasaran tersebut dijalankan melalui Pojok Gelaran Produk Ekonomi Kreatif UMKM dan Inklusif atau JOGOMIDAS. Program ini diwujudkan dalam Gerai UMKM Kotagede yang berada di Pendopo Abdi Praja Kemantren Kotagede dan menjadi etalase bersama bagi 33 UMKM.
Kepala Jawatan Kemakmuran Kemantren Kotagede, Isniyarti Wuri Putranti, menjelaskan bahwa gerai dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan akses pasar dan promosi pelaku usaha.
“Dengan promosi bersama dan dukungan berbagai pihak, kami berharap produk khas Kotagede semakin dikenal, peluang transaksi meningkat, dan UMKM semakin berkembang,” tuturnya saat diwawancarai pada Kamis (15/10/2026).
Promosi menjangkau pengunjung gerai, aparatur sipil negara, mitra wilayah, dan tamu studi tiru yang datang ke Kemantren Kotagede. Media sosial juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk kepada konsumen.
Produk yang dipasarkan meliputi kerajinan perak dan logam, wayang kulit, blangkon, tanduk kerbau, fiberglass, konveksi, serta kuliner seperti kembang waru, kipo, ukel, banjar, dan jamu.
Gerai membuka kesempatan bagi usaha rumahan, perajin tradisional, penyandang disabilitas, serta UMKM yang belum optimal memanfaatkan teknologi digital. Pengelola menerapkan pencatatan transaksi manual dan digital, menyediakan QRIS, serta memantau kualitas dan masa kedaluwarsa produk.
JOGOMIDAS mulai dirintis dan aktif dipublikasikan sejak 2024, kemudian meraih Juara I Lomba Anugerah Inovasi Perangkat Daerah Kota Yogyakarta pada Agustus 2026.
Kemantren Kotagede melanjutkan pengembangan melalui perluasan pasar, penguatan pemasaran digital, serta pendampingan kualitas, kemasan, dan desain produk. Kerja sama dengan perangkat daerah, komunitas, dan perguruan tinggi juga diteruskan untuk mendukung pertumbuhan usaha masyarakat.
