YOGYAKARTA – Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta kembali menggelar Lomba Kampung Tangguh Pangan Tingkat Kota Yogyakarta Tahun 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Yogyakarta dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat sekaligus mendorong pemanfaatan lahan terbatas di wilayah perkotaan.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi, mengatakan lomba tersebut tidak hanya bertujuan memilih kampung terbaik, tetapi juga membangun budaya ketahanan pangan yang berkelanjutan melalui keterlibatan aktif masyarakat.
Menurut Sukidi, meski memiliki keterbatasan lahan pertanian, Kota Yogyakarta tetap memiliki potensi besar untuk menghasilkan pangan secara mandiri. Pemanfaatan pekarangan rumah, lahan kosong, maupun ruang produktif lainnya dinilai mampu mendukung kebutuhan pangan keluarga sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan.
Konsep yang diterapkan dalam lomba ini adalah integrated farming, yakni sistem yang mengintegrasikan budidaya tanaman, peternakan skala kecil, dan perikanan dalam satu kesatuan. Selain meningkatkan produksi pangan, pendekatan tersebut juga diharapkan memperkuat semangat gotong royong serta menciptakan lingkungan kampung yang lebih hijau dan sehat.
Lomba diikuti oleh 14 kampung yang mewakili seluruh kemantren di Kota Yogyakarta. Setiap peserta dapat mengajukan satu hingga tiga lokasi untuk dinilai. Tahapan penilaian lapangan dijadwalkan berlangsung pada 5, 6, 11, 12, dan 13 Agustus 2026, sedangkan pengumuman pemenang akan dilakukan pada Agustus 2026.
Tim juri yang terdiri atas praktisi dan pegiat ketahanan pangan keluarga akan melakukan penilaian secara menyeluruh. Empat aspek utama yang menjadi perhatian meliputi penerapan integrated farming, kebersihan dan kerapian lingkungan, pemanfaatan hasil produksi, serta partisipasi masyarakat.
Selain itu, inovasi seperti hidroponik, smart farming, sistem irigasi sederhana, pengelolaan limbah, administrasi kelompok, hingga kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, media, dan program CSR juga menjadi bagian dari indikator penilaian.
Sebagai bentuk apresiasi, Pemerintah Kota Yogyakarta menyiapkan trofi, piagam, serta uang pembinaan. Juara I akan memperoleh Rp5 juta, Juara II Rp4,5 juta, Juara III Rp4 juta, Juara Harapan I Rp3,5 juta, dan Juara Harapan II Rp3 juta.
Melalui penyelenggaraan lomba ini, Pemerintah Kota Yogyakarta berharap semakin banyak kampung yang mampu menjadi contoh dalam membangun ketahanan pangan berbasis masyarakat sehingga gerakan memanfaatkan pekarangan dan pertanian terpadu terus berkembang sebagai budaya di tengah warga.
