KOTA YOGYAKARTA – Tema “LAKU” menjadi gagasan utama Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 yang akan berlangsung di Taman Budaya Embung Giwangan pada 23–30 Agustus mendatang.
Tema tersebut dimaknai sebagai perjalanan sekaligus praktik yang dijalankan oleh berbagai unsur dalam ekosistem sastra. Menulis dan membaca hanya menjadi sebagian dari proses itu. Kegiatan mengkaji, mengkritik, mengajarkan, menerbitkan, hingga mendistribusikan buku juga termasuk dalam laku sastra.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti menilai tema tersebut selaras dengan posisi Yogyakarta sebagai kota pendidikan, kota budaya, sekaligus salah satu pusat perkembangan sastra Indonesia dan sastra Jawa.
“Melalui tema ini, kami ingin memperluas cara pandang masyarakat terhadap sastra, dari sekadar karya menuju ekosistem dan praktik kesastraan yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat,” ujar Yetti saat temu media, Rabu (19/8/2026).
Festival yang digelar Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) itu mempertemukan sastrawan, penulis, akademisi, penerbit, komunitas, pelaku budaya, dan masyarakat pembaca.
Selama delapan hari penyelenggaraan, rangkaian kegiatan berlangsung pukul 10.00–21.00 WIB. Program yang disiapkan mencakup pameran, diskusi, kegiatan literasi, pertunjukan, dan Pasar Buku Sastra.
Melalui kerja sama dengan IKAPI DIY, pasar buku tersebut menghadirkan ribuan judul dari berbagai penerbit dengan penawaran harga khusus bagi pengunjung.
Panggung penutupan digelar di Amphitheatre Taman Budaya Embung Giwangan pada Sabtu (29/8/2026) pukul 19.30 WIB. Dee Lestari dan Kiai Kanjeng dijadwalkan tampil dalam acara tersebut.
Penutupan juga dirangkai dengan Malam Anugerah Sayembara Puisi Nasional FSY 2026. Sekitar 2.500 puisi telah diterima panitia hingga 19 Agustus, dengan total hadiah yang disediakan sebesar Rp5 juta.
Konsep dan program FSY tahun ini dikembangkan bersama tiga kurator, yakni Paksi Raras Alit, Ramayda Akmal, dan Fairuzul Mumtaz.
